Tuesday, June 21, 2011

surat untuk bumi #7

Hey, bumi.

Apakabar kamu hari ini? Ah, sudah bisa dipastikan berputar dengan stabil seperti biasa. Aku rindu, kita tidak bicara banyak akhir-akhir ini. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Sedih? Oh tidak kok. Aku hanya merasa, hmm entahlah. Mungkin ini yang orang sebut kecewa.

Oia. Apa kamu sadar? Kamu guru yang sangaaat baik. Dulu aku kira sedih dan kecewa itu sama saja rasanya. Tapi kemarin dengan sangat sempurna, kamu ajarkan aku perbedaan keduanya. Terimakasih bumi, aku akhirnya tau benar rasanya kecewa.

Jadi ternyata, kecewa itu pahit yaa?! Bahkan si kecewa ini dengan hebatnya bisa membuat luka yang sakit itu seakan hambar. Kecewa itu juga bisa membuat derai jantung yang menyedihkan itu seakan tidak ada apa-apanya. Aku baru tau kalau kecewa itu, seperih itu. Iya, seperih itu..

Oh, tidak bumi. Bukan salahmu aku kecewa. Bukan salahnya juga. Tenanglah kalian berdua. Eh tapi ini juga bukan salahku juga loh. Hmm, yaa aku salah sih. Oke aku mengaku, memang salahku, tapi sedikit. Salah otakku yang berusaha melampaui denting waktu dan melukis masa depan. Salah otakku yang memberikan gambaran tentang apa yang tidak dapat diuji oleh ilmu pasti. Salah otakku yang berilusi menggoreskan harapan yang yah akhirnya begini. Yah begini ini, si kecewa ini..

...

.. aku kehilangan kata-kataku. Hahaha..
Hmm tapi yaa itu. Aku kecewa.
Iya. Sangat kecewa..
Sudahlah..

Aku rindu kamu, bumi. Dan aku kecewa..


No comments:

Post a Comment

Followers