Tuesday, April 6, 2010

monolog.

Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. Saya tidak gila. Tapi sekerumun malaikat mencengkramnya. Menarik kedua tangannya, mengikatnya. Gadis itu meronta. Kalian menyakiti saya dengan mengikat saya begini, berbisik lirik setengah terisak. Malaikat itu makhluk baik, gadis manis. Mereka ingin menjauhkanmu dari tangan nakalmu yang berusaha melukai dadamu sendiri. Tapi dengan cara ini mereka juga melukai aku, erang Gadis. Tidak ada yang mungkin bisa menyembuhkan luka dengan luka.

Biarkan saja saya menyakiti diri. Kalian tidak berbeda. Menghisap daun juga menyakiti diri, tapi menyenangkan kan sakitnya?, Gadis berteriak membela diri. Nah, jadi biarkan saja dia terluka, seperti kalian melukai kepala dan darah diri sendiri. Akui saja, kita semua mencandu luka. Lagipula, Gadis suka debar perihnya, suka bulir air menghangati matanya. Dia bukan terobsesi, hanya menikmati gundah, nanti juga akan lelah. Lebih baik saya terluka oleh luka yang saya suka, dibanding kalian alihkan luka dengan luka yang saya tak kenal apa, gadis mendebat. Terimakasih untuk hatinya. Menyenangkan sekali diperhatikan. Tapi saya masih belum ingat caranya tertawa, biarkan saja saya belajar kembali, dimulai dari bagaimana caranya meringis.

* I still won't unfollow him so far :)

No comments:

Post a Comment

Followers